Merasa Tidak Punya Beban Masa Lalu, Makanya Sering Lupa Pada Janji

Yang merasa enteng bicara tidak memiliki beban masa lalu, mungkin telah terbentuk pada dirinya karakter yang sering lupa pada janji

Janji adalah sebuah beban yang harus tertunaikan, memenuhi janji adalah kewajiban, karena mengingkari janji urusannya bisa sampai terbawa pada urusan setelah mati (akhirat)

Janji adalah hutang, maka sering menjadi beban untuk ditunaikan, bagi orang yang mudah membuat janji maka komitmennya atas omongan pun menjadi taruhannya

Ditambah janji itu diucapkan dari mulut sang calon pemimpin, tidak menunaikan janji maka diragukan komitmen sang calon pemimpin

Janji bisa menjadi beban masa lalu yang akan ditanyakan

Maka pantaslah, yang merasa dirinya tidak memiliki beban masa lalu, bisa jadi sering lupa pada janji-janji yang pernah di ucapkan

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang omongan serta janjinya kerakyat bisa dipertanggungjawabkan lewat bukti dilapangan sehingga tidak akan menjadi beban kepemimpinan kedepan

Merasa tidak memiliki beban selama kepemimpinan mungkin harus diberikan cermin bagaimanakah dirinya selama berlaku sebagai pemimpin, sehingga evaluasi bisa dijalankan

Janji seorang pemimpin, bukan hanya berlaku pada saat kampanye dan butuh suara dalam kontestasi semata tetapi sudah menjadi syarat mutlak teruji tidaknya sang pemimpin dalam komitmen sesuai bukti yang diberi

Calon pemimpin yang bertanggungjawab adalah calon pemimpin yang kuatir membuat janji namun tak terbukti, yang takut disebut sebagai pemimpin yang membohongi

Pemimpin yang banyak mengucap janji adalah pemimpin yang tidak mengerti serta memahami beratnya beban sebagai pemimpin sebuah negeri, disebut membohongi ketiks janji tak sesuai dengan bukti

Pemimpin memiliki beban masa lalu, ditambah dirinya adalah calon petahana atau incumbent, yang dipilih sebagai pemimpin justru karena janji-janji, yang akan menjadi beban politik sendiri apabila janji tersebut tidak terbukti

Maka, pemimpin yang mengatakan dirinya adalah pemimpin yang tidak memiliki beban masa lalu, ditambah diri sang pemimpin adalah calon petahana yang pernah memiliki banyak janji, adalah bukti bahwa sang pemimpin mudah lupa akan janji

Janji yang adalah hutang saja bisa dilupakan, apalagi nasib rakyat bisa-bisa digadai tanpa rasa bersalah pada diri, ingat jangan dipilih calon pemimpin seperti ini

Bang dw

Advertisements

Kalau ada Pilihan Untuk Perubahan, Lalu Mengapa Pilih Status Quo?

Bagi yang menginginkan perubahan, haram hukumnya memilih status quo sebagai pilihan dalam kontestasi

Mengapa disebut haram hukumnya, karena status quo adalah lawan dari perubahan, memilih status quo berarti memilih pada situasi yang tidak berubah alias tetap dalam kepemimpinan yang sama

Status quo berasal dari bahasa Latin, artinya ‘keadaan tetap sebagaimana keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan sebelumnya’. Jadi, mempertahankan status quo berarti mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti keadaan sebelumnya.

Memilih status quo, berarti tetap membiarkan negeri dalam kepemimpinan yang lebih memilih hutang sebagai solusi, membiarkan negeri dalam kepemimpinan yang membuka luas kesempatan bagi tenaga kerja asing dibandingkan tenaga kerja asli dalam negeri, dan membiarkan negeri dalam kepemimpinan yang takluk pada mafia impor dan obral janji yang tak terbukti

Belum lagi, situasi negeri yang penuh kegaduhan, pengkotak-kotakan dengan jualan kebhinekaan paling pancasilais dalam bingkai permusuhan

Melihat situasi status quo yang tidak membawa perbaikan bagi negeri, lalu mengapa tetap dipilih?, Mengapa tidak memilih perubahan

Memilih Prabowo Sandiaga berarti memilih perubahan untuk nasib negeri

Prabowo Subianto adalah sosok pemimpin yang sudah tidak diragukan ketegasan dan jiwa nasionalisnya bagi NKRI

Perubahan membutuhkan pemimpin yang berani dan tegas bersikap demi negeri

Tidak lagi, negeri ini harus diserahkan kepada pemimpin berjiwa boneka yang mendukung negeri pada status quo tanpa perubahan

Jadi, kalau ada pilihan untuk sebuah perubahan negeri, buat apa pilih status quo dalam jiwa kepemimpinan boneka?

Bang dw

Ketika Memenangkan Prabowo adalah Panggilan Hati

Memenangkan Prabowo Subianto pada pilpres 2019 kini telah menjadi sebuah panggilan hati

Ada bagian tubuh manusia, yang apabila digerakkan karenanya maka cinta kan menjadi alasannya, yaitu hati dan kini hati itulah yang kini berperan menggerakkan pikiran untuk ikut berjuang memenangkan pilihan hati bernama Prabowo Sandi

Ketika hati yang menggerakkan, maka hilanglah rasa takut akan kerugian, karena tidak ada kerugian ketika hati sudah mantap tegak lurus dengan perjuangan

Memenangkan Prabowo Sandi bukan lagi soal ambisi tetapi kini sudah menjadi rasa hati dalam satu negeri

Demi membangkitkan kedaulatan ekonomi negeri dan demi menyelamatkan kepemimpinan negeri dari kepemimpinan boneka titipan mafia, asing serta aseng

Prabowo Sandi menjadi solusi negeri kedepannya, solusi yang membawa angin perubahan atas nasib negeri

Memenangkannya seolah telah menjadi panggilan hati para anak negeri

Tidak boleh lagi, negeri ini dikuasai oleh para pengkhianat penjual aset negeri, dan sudah saatnya kini, negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang cinta pada rakyat serta nasib negeri kedepannya

Memenangkan Prabowo Sandi adalah panggilan hati, yang digerakkan oleh kepedulian atas nasib negeri

Mereka pemilih Prabowo sandi, berdiri bersama dalam ikatan sama satu negeri, yang mencintai karena kuatir akan nasib negeri yang akan tergadai oleh pemimpin boneka aseng sang pengendali

Mereka para pemilih Prabowo Sandi, hadir dari berbagai latarbelakang, politik, warna kulit, agama dan golongan, namun satu hati dalam kecintaan kepada nasib negeri

Panggilan hatilah yang membuat mereka bersedia memperjuangkan dan mengikuti

Peejuangan dengan modal apa adanya yang dimiliki, walau hanya lewat senyuman dan pelukan persaudaraan sesama anak negeri

Pejuang pemilih Prabowo Sandi tidak digerakkan dengan janji-janji ada apanya, sebungkus nasi rebutan ataupun uang seratus ribuan

Pejuang pemilih Prabowo Sandi adalah pejuang dengan hati dan memilih karena peduli atas nasib negeri

Yang mereka inginkan perubahan

Perubahan karena otak dan hati mereka melihat, merasakan lalu berazzam untuk melawan dan memperjuangkan

Mereka bukanlah robot-robot yang digerakkan demi menyelamatkan status quo penentang perubahan

Mereka punya hati untuk memilih

Hati yang dapat merasakan serta melihat nasib negeri dibawah kepemimpinan boneka aseng sang pengendali

Maka memenangkan Prabowo Sandi kini telah menjadi panggilan hati

Bergerak dengan tanpa instruksi, berjuang dengan merangkul demi negeri serta bersama dalam barisan satu hati negeri

Memenangkan Prabowo Sandi kini sudah menjadi panggilan hati

Bang dw

Prabowo adalah Arah Baru Indonesia Kedepannya

Berbicara tentang perubahan tentu yang pertama harus dicari adalah siapa Agent Of Change-nya, siapa yang menjadi pemantik dan pelopor ide perubahan itu

Melihat kontestasi politik di Indonesia yang hanya diikuti oleh dua calon presiden yaitu Jokowi-Ma’ruf Amin serta Prabowo-Sandiaga Uno, maka sungguh pantas kiranya yang menjadi dan ditempatkan sebagai Agent Of Change adalah pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno

Pasangan Jokowi-Ma’ruf adalah calon presiden petahana atau bisa disebut pasangan presiden dengan wajah status quo karena agenda dua periode yang akan melanjutkan periode pertama sebagai pemimpin di negeri ini

Sementara pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno adalah pasangan yang menjadi kompetitor dari calon petahana atau inkumben, melekat pada pasangan Prabowo dan sandiaga ini label kekuatan oposisi

Oposisi adalah kubu yang selalu menyuarakan perubahan, kubu yang selalu bergerak dengan daya kritis sebagai anak bangsa dengan semangat memberikan perubahan yang lebih baik lagi bagi negeri

Sebagai pihak yang mengginginkan perbaikan dan perubahan, tentu pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pantas disebut Agent Of Change saat ini

Agent Of Change (ikon perubahan) bagi negeri, yang membawa pesan-pesan perubahan dari kondisi status quo yang sudah dirasakan oleh rakyat Indonesia

Dan sudah sepantasnya, rakyat Indonesia yang menginginkan terjadi perubahan memilih pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai pemimpin bangsa kedepannya dan tidak ada opsi lain

Perubahan versus status quo, perubahan yang dibawa oleh Ikon perubahan bernama prabowo Subianto

Dan ini menjadi pertanda kelahiran arah baru bangsa, arah baru yang menjadi angin segar perubahan nilai dan agenda bangsa kedepannya

Seperti harapan para pengganggas arah baru Indonesia kedepannya yaitu Anis Matta dan Fahri Hamzah

“Rasanya tahun 2019 ini giliran Prabowo, Indonesia memerlukan terobosan besar menghadapi situasi dunia” -Anis Matta-

Situasi dunia yang membutuhkan kehadiran pemimpin yang mampu membaca sekaligus memberikan kontribusi besar kedepannya, dan sosok Prabowo Subianto lah yang dinilai cocok menjadi pemimpin sekaligus agent Of Change kedepannya

Pemimpin yang siap menghadapi tantangan besar dunia kedepannya, serta mampu membawa Indonesia sebagai negara besar menjadi lokomotif yang mampu memberi pengaruh besar terhadap perubahan konstelasi politik dunia

Negeri ini tidak lagi membutuhkan pemimpin boneka dan penuh pencitraan, tetapi negeri ini butuh pemimpin yang mampu memberi pengaruh perubahan, mampu menjadi Agent Of Change (ikon perubahan) bagi Indonesia dan dunia

Dan untuk kebutuhan tersebut, Prabowo Subianto adalah sosok yang PAS untuk menghadapi tantangan besar tersebut tentu sebagai pemimpin negeri kedepannya

Prabowo adalah Arah Baru Indonesia kedepannya

Arah baru yang menjadi harapan rakyat Indonesia kedepannya

Prabowo Subianto adalah solusi atau jawaban keterbutuhan sosok pemimpin dalam menghadapi tantangan situasi dunia

Arah baru Indonesia yang lebih baik, yang mampu tampil berbicara di setiap pertemuan internasional serta memberi pengaruh besar atas persoalan bangsa dan dunia kedepannya

Prabowo Subianto adalah arah baru Indonesia menang dan bukan pecundang

Bang dw

Uighur dan Diamnya Pejuang Hak Toleransi dan Kebebasan di Indonesia

Pada Agustus 2018, sebuah komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut program ‘reedukasi, atau ‘pendidikan ulang’.

Program yang membuat jutaan warga muslim Uighur menderita serta mengalami begitu banyak penyiksaan untuk agenda pembungkaman serta penghapusan ideologi demi satu doktrin bernama komunisme

Republik Rakyat Tiongkok memang telah dikenal sebagai negara dengan satu ideologi komunis, pemerintah komunis China memberlakukan kebijakan anti politik agama, serta antipati pada praktek keagamaan dalam kehidupan beragama, untuk memenuhi agenda dan program tersebut maka program penghapusan pola pikir beragama warga Muslim Uighur dilakukan dengan besar-besaran melalui membuat kamp-kamp khusus  ‘pendidikan ulang’

Program pendoktrinan ulang, lewat cara-cara penyiksaan serta pemaksaan kepada jutaan muslim uighur dilakukan, program mencabut kebebasan beragama adalah sebuah catatan pelanggaran HAM yang telah dilakukan, selain tentu usaha pembersihan etnis Uighur secara sistematis

Sebagian besar pemimpin dunia seperti pemimpin Jerman telah melakukan reaksi nota protesnya kepada pemerintah komunis China, dan para aktivis HAM dibeberapa negara pun sudah melayangkan surat kritikan kedutaan besar china serta melakukan aksi protesnya, namun pemerintah china tetap tidak mau bergeming dan menyatakan ini urusan dalam negeri mereka

Yang menarik, adalah di Indonesia, para aktivis yang biasa teriak soal toleransi dan kebebasan beragama semua tiba-tiba seragam diam seribu bahasa terkait aksi keji pemerintah komunis china kepada muslim Uighur

Tidak ada sedikitpun komentar ataupun aksi untuk teriak protes demi nama toleransi serta kebebasan, semua rapi seragam diam seribu bahasa seperti ada yang mengkomandani

Mengapa mereka diam?, sementara soal toleransi dan kebebasan beragama adalah soal universal, bebas lepas dari keberpihakan dan kepentingan

Ini menjadi sebuah ironi ketika kemarin-kemarin mereka tiba-tiba teriak seperti kesakitan, melihat toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia mengusik jiwa raga mereka

Aneh, jiwa raga mereka seolah berbayar dan berpihak sesuai kepentingan; yang berteriak seperti orang kesetanan serta kesakitan sesuai agenda yang disiapkan

Contoh tentang pemakaman warga non muslim yang papan nisan salibnya harus dipatahkan atasnya demi menghormati tempat pemakaman muslim dimana warga tersebut dimakamkan, dan tiba-tiba ibarat menemukan amunisi atau bahan untuk berteriak, semua ramai-ramai berteriak kesetanan seperti orang sakit yang merasa tersakiti soal toleransi dan kebebasan beragama, mereka marah, mereka buat agitasi dan propaganda soal pentingnya toleransi, namun akhirnya anti klimaks karena semua kisah nyata tidak seperti yang diperkirakan dan disangkakan dan para pesakitan itu akhirnya lari dari tanggungjawab untuk membantu memberikan klarifikasinya

Apakah perjuangan toleransi dan kebebasan beragama yang ada selama ini adalah sekedar jualan semata, yang akan menjadi bahan untuk berteriak seperti kesetanan dan kesakitan ketika bahan tersebut bisa menyudutkan umat Islam

Ketika ada bahan yang bisa menyudutkan umat Islam, maka soal toleransi dan kebebasan beragama  adalah hal yang pantas diperjuangkan untuk diteriakkan agar semua tergiring opini kebencian kepada umat Islam

Lalu bagaimana dengan nilai-nilai universal dibalik kata toleransi dan kebebasan beragama itu sendiri? apakah para aktivis pejuang toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia adalah pejuang yang dikomandani kepentingan sehingga berjuang sesuai pilihan politik

Mengkritisi dan melakukan protes kalau mengusik kepentingan dan pilihan politiknya, sementara kalau tidak mengusik kepentingan bahkan berbahaya bagi pilihan politik luar negerinya maka dicari cara menghindar dan kalau perlu menutup diri

Penderitaan yang dialami oleh muslim uighur adalah kaca yang bisa untuk mengevaluasi (menilai) sesungguhnya siapakah mereka para pejuang yang biasa teriak toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia saat ini, yang ternyata tak ubahnya konten berbayar sesuai kepentingan dan pilihan politiknya, memalukan!

bang dw

Ketika PSI dan Neolib Menjadi Identitas Diri Jokowi

Sepak terjang Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke publik, mau tidak mau membantu masyarakat dalam mengindetifikasi barisan pendukung Jokowi

Sekarang masyarakat mulai cerdas melihat dan mengidentifikasi, kini melihat Jokowi dan barisannya cukup dengan melihat PSI beserta sepak terjangnya dalam membangun opini

Agitasi dan propaganda yang disebarkan oleh PSI, secara langsung memberi dampak pada penurunan elektabilitas Jokowi secara nasional terutama kepada pemilih muslim tradisional yang memiliki pandangan berbeda soal poligami

Jokowi adalah PSI, itu yang kini melekat di pikiran pemilih muslim

Bagi Tim TKN Jokowi-Ma’ruf mungkin sudah saatnya berpikir ulang, membawa kekuatan PSI bersama dalam satu koalisi kapal pendukung Jokowi, karena efek yang ditimbulkannya oleh opini yang diciptakan bersama PSI bukan lagi memberi dampak menaikkan namun justru membantu membuat turun elektabilitas

Dari penolakan Perda Syariah hingga soal poligami, PSI sedang membakar rumah pemenangan Jokowi dimana ada partai seperti PPP dan PKB yang memiliki kultur Islam tradisional yang lebih menerima pada pemahaman soal poligami

Masyarakat semakin cerdas untuk mengindentifikasi, bahwa memilih Jokowi sama saja memilih platform yang diperjuangkan oleh PSI

Secara tidak langsung, ini membantu menaikkan keterpilihan kubu Prabowo Sandiaga dimata pemilih muslim tradisional

Lebih baik memilih Prabowo Subianto dibandingkan memilih Jokowi dimana PSI dan kaum Neolib bercokol untuk menyebarkan agendanya

Pada kubu Jokowi-Ma’ruf kini juga berada para Neolib yang mendukung kebijakan impor dikala petani sedang panen melimpah, atau lebih memilih kebijakan menyerahkan semua kepada mekanisme pasar sehingga mematikan usaha kecil yang seharusnya mendapatkan perlindungan pemerintah

Mengidentifikasi barisan pendukung, cukup dengan melihat cara berpikir tokoh yang tergabung dalam barisan dan juga platform yang diperjuangkan oleh partai pendukungnya

Jokowi bukanlagi berhadapan dengan program dan agenda yang ditawarkan oleh Prabowo sebagai lawan politik tetapi kini berhadapan pada euforia yang disebar dan ditebar oleh partai politik dalam koalisi pendukungnya

Dan ini memberi dampak langsung pada penurunan elektabilitas Jokowi saat ini, efek euforia partai baru yang ingin eksis dimata masyarakat

Dan memang sangat mudah, untuk melihat dan mengidentifikasi Jokowi serta barisannya saat ini, selain label PDIP yang disebut juara korupsi, disana juga kini berada partai baru yang selalu mengeluarkan pernyataan kontroversialnya seperti PSI

Dibuat hancur oleh barisannya sendiri, ibarat terkuras sudah kekuatannya sebelum pertarungan aslinya dalam kontestasi

Biarkan saja PSI dalam koalisi Jokowi, toh itu cara Tuhan membantu masyarakat untuk mengindentifikasi

Siapa Jokowi dan isi barisannya kini

Bang dw

Pilpres 2019, dan Kisah The Avengers: End Game Kekuasaan Thanos dan Jokowi?

Ada yang menarik yang akan terjadi pada bulan April 2019, selain tentunya kehadiran sekuel lanjutan Avengers: End Game juga adalah pemilu di Indonesia

Mengapa menarik? Karena tema dari keduanya hampir sama, yaitu end game atau kisah tentang akhir permainan

Bagi penggemar film Avengers mungkin akan disuguhi jawaban akhir nasib para superhero yang tergabung dalam The Avengers serta kisah Thanos pada akhirnya

Sementara dalam dunia yang berbeda, disebuah negeri bernama Indonesia, juga terjadi pertempuran yang akan menentukan siapa yang akhirnya menjadi pemenang dari persaingan politik selama ini, dan juga menyeret akhir dari fanatisme kedua pendukung

End Game, bagaimanakah akhir dari permainan itu nantinya, dan ini ditentukan pada waktu yang sama yaitu April 2019

End Game dari Thanos, ataukah End Game juga dari kekuasaan Jokowi

Entah sebuah kebetulan atau tidak, kedua kisah tersebut baik film Avengers dan Pilpres di Indonesia menggambarkan dua kekuatan

Satu kekuatan yang mengedepankan dan pembelaan kepada kebenaran serta satu kekuatan lain yang mengedepankan dan pembelaan kepada kamuflase atau kebohongan

Siapa yang akan menang pada akhirnya?

Kalau di film Avengers kita mungkin bisa mengatakan the Avengers lah yang akan menjadi pemenang pada akhir permainan walau mungkin disertai kisah sedih berupa pengorbanan beberapa nama superhero yang harus dibuat mati

Sementara pada kisah pilpres di Indonesia, akankah kubu Prabowo Sandiaga akan menjadi pemenang dari persaingan permainan politik yang terjadi selama ini

Namun yang pasti, semua akan berakhir atau End Game

Menjadi pengakhir dari kisah persaingan yang terjadi selama ini, serta menjadi jawaban akhir dari pertanyaan yang muncul selama ini

Siapakah yang pada akhirnya menjadi pemenang dan penuntas dari permainan yang ada

The Avengers ataukah Thanos

Prabowo Subianto ataukah Jokowi

Kampret ataukah cebong

Semua akan diketahui pada April 2019, ketika episode akhir “End Games” diputar dan dilaksanakan

 

Bang dw

Mereka Gagal Paham Tentang Keberagaman

Bagi yang iri atau dengki pada acara reuni 212, sehingga hanya kebencian dan nyinyiran yang selalu keluar dan terucap, sebenarnya menunjukkan bahwa diri mereka lah yang gagal paham tentang keberagaman 

Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa atau Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran

Reuni 212 adalah satu wahana pemersatu bangsa, dan bukan lagi wahana untuk politik identitas satu agama atau satu umat, reuni 212 telah bertransformasi menjadi reuni besar anak bangsa

Memahami arti dan makna bhinneka atau beragam alias terpecah belah lah itu, dan dilanjutkan kalimat tunggal Ika atau tetapi satu jugalah itu, bisa menjadi cerminan semangat reuni 212

Karena peserta reuni 212 adalah keindonesiaan, dengan latarbelakang suku dan agama yang bebeda serta dari berbagai asal daerah menjadi satu dalam satu acara besar dan mampu memberitahukan kepada dunia tentang makna kedamaian serta persatuan dalam satu ikatan kebangsaan

Reuni 212 mampu menjadi jawaban dari tuduhan serta stigmatisasi negatif media barat tenang muslim Indonesia dan radikalisme

Sungguh sebuah pesan yang sangat jelas dan tersampaikan dengan cara yang sangat indah

Inilah Indonesia, inilah negeri yang dari dahulu sudah dikenal sebagai negeri yang penuh kedamaian dan keramahan, inilah negeri yang selalu menjunjung sifat asah, asih dan asuh dalam kehidupan berbangsa

Lalu mengapa masih saja dari sebagian kecil anak bangsa yang iri, dengki dan tidak suka pada makna dari keberhasilan acara reuni 212?

Apakah mereka sebenarnya generasi gagal paham tentang keberagaman?

Karena ketidaksukaan mereka kepada acara reuni 212, adalah bagian ketidakadilan bersikap mereka sebagai sesama anak bangsa

Ketidaksukaan mereka kepada acara reuni 212 juga membuka kedok mereka yang menjadikan kebhinekaan sebagai jualan semata

Reuni 212 adalah reuni penuh keberagaman, disatu sisi acara tersebut adalah acara yang dihadiri jutaan rakyat Indonesia dari berbagai daerah, disisi lain acara tersebut menjadi bukti dan pesan kepada dunia, bahwa indonesia masih aman dan damai tanpa adanya intimidasi dan persekusi selama acara dilangsungkan

Gagal Pahamnya mereka atas nilai keberagaman di reuni 212, sudah terlihat dari pembangunan ketidaksukaan dengan kebencian mereka kepada sesama anak negeri yang terlibat di acara 212 dengan menggiring opini bahwa acara ini murni acara yang sarat kepentingan politik

Mungkin saja, kalau acara 212 ini adalah acara yang digagas Bani gagal paham tersebut, mungkin akan menjadi nilai untuk menjatuhkan dan dibanggakan sebagai superioritas politik Bani gagal paham, namun akhirnya semua itu harus kembali ke dunia nyata lagi, acara tersebut bukanlah acara mereka maka ketidaksukaan, iri dan dengki menjadi kompor untuk mereka membangun kebencian

Ketidaksukaan terlihat dengan dengan sangat terang benderang, melalui komentar-komentar serta tulisan yang mereka buat untuk mendeskreditkan dan menjatuhkan nilai acara 212 tersebut

Semakin ketidaksukaan dan kebencian mereka tampilkan, maka itu semakin menjelaskan kegagalan pahaman mereka akan nilai keberagaman yang jelas bagian dari keindonesiaan, bhinneka tunggal Ika (Pancasila)

212 membuka tabir mereka sesungguhnya, yang tak lebih bani gagal paham dan mencari perpecahan sesama anak negeri demi nilai rupiah dan sebesarnya kekuasaan

 

Bang dw

Kacamata Kuda Media

Bisunya media dalam memberitakan reuni 212, sebenarnya mengungkap sisi keberpihakan pada kepentingan politik sang pemilik media

Di negeri ini, kapitalisasi media menjadi alasan sang pemilik media untuk menghilangkan independensi serta netralitas demi kepentingan politiknya

Kepentingan politik menghancurkan kaidah-kaidah pemberitaan, seolah ada hal yang harus diatur dan disesuaikan dengan keinginan para pemilik saham media

Media pers bukan lagi menjadi media untuk memperjuangkan kebenaran dan keaktualitasan informasi atau berita, tetapi menjadi ajang atau panggung yang dipesan sesuai keinginan

Pembatasan informasi bukanlagi karena aturan yang ditetapkan, tetapi sudah pada keinginan pemilik modal, boleh atau tidaknya pemberitaan dan hal ini mencerminkan intervensi kepada nilai-nilai informasi itu sendiri yang menjadi hak warga negara untuk mendapatkannya

Sementara peran media pers sesuai pasal 6 UU Pers nasional yaitu memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkan nilai nilai dasar demokrasi dan mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia.

Selain itu pers juga harus menghormati kebinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar melakukan pengawasan

Berbeda dengan peran media diatas, justru media saat ini lebih terasa menjauh masyarakat dari hak kebebasan mendapatkan informasi, karena seolah ada “tangan-tangan yang tidak terlihat” yang membuat kebebasan itu harus dibatasi

Inilah yang disebut kacamata kuda media dimana media diatur langkah dalam memberitakan informasi

Pemilik media ibarat kusir yang mengatur langkah kuda, tidak membiarkan kebebasan kepada kuda (media) untuk menengok kanan dan kiri tetapi hanya melihat kedepan sesuai arahan sang kusir (pemilik media)

Kuda (media pers) terkekang oleh kepentingan sang kusir (pemilik media)

Hanya berjalan melangkah sesuai keinginan sang pemilik kendali, tanpa adanya kebebasan memberitakan yang terjadi di kanan dan kiri

Diam dan bisunya media pers didalam memberitakan informasi tentang reuni 212, adalah karena sang pemilik media sudah memiliki pesanan jalan (analogi kusir dan kuda) yang dilaluinya

Ada jalan yang dibolehkan untuk diberitakan, ada jalan yang tidak boleh diberitakan, intinya media pers tersebut menjadi panggung egoisme para pemilik media

Apa yang dilakukan para pemilik media dengan media yang dimilikinya juga mempertaruhkan nasib media pers di Indonesia kedepannya

Jangan sampai media yang terkekang oleh kepentingan politik sang pemilik media, akhirnya ditinggalkan secara massif karena muaknya para pembaca atau penonton media tersebut akibat terlalu menjijikanya keberpihakan si pemilik media

Demi kepentingan politik  para steak holder (pemilik modal media) akhirnya media menjadi Jonggos yang bisa diperintah dan dikendalikan

Reuni 212 menjadi contoh, bagaimana para pemilik media ketakutan dan gelisah akan membesarnya sebuah pemberitaan menjadi viral dimasyarkat sehingga berpengaruh pada elektabilitas presiden yang didukung pemilik media

Cuma pertanyaan pun muncul, sampai kapan ketelanjangan keberpihakan media ini dipertontonkan dan dapat bertahan?

Karena yang pasti, masyarakat pembaca dan penonton itulah yang sebenar-benarnya steakholder alias pemilik suara yang menentukan bagi media itu kedepannya

 

Bang dw

212 dan Kisah Rindu Yang Tak Akan Pernah Padam

Reuni atau pertemuan ulangan biasa dilakukan demi tujuan menumpahkan kerinduan yang tak pernah padam, betapa merindunya hati akan situasi ketika semua dipertemukan dalam satu ikatan cinta yang tiada akan habis dalam catatan kehidupan

aksi-bela-islam12

Pertemuan akan selalu meninggalkan kisah yang menggetarkan, apabila digerakkan dalam satu ikatan kebersamaan dalam kebenaran, yang akan terus meninggalkan rindu sebagai catatan

Rindu yang tak pernah padam walau dalam gelap penerangan, yang selalu akan terngiang dalam ingatan, dan selalu membangkitkan romantisme sebuah gerakan

Ini soal hati dan pilihan, yang tak akan habis diceritakan oleh kata dan tulisan

Ini soal bagaimana kebangkitan dan kesadaran bisa digerakkan, dengan latar belakang beragam dalam kehidupan, menyatu dalam satu niat keumatan demi persatuan

Ini soal bagaimana menghargai nilai-nilai kebenaran, yang tak akan surut walau dicari cara untuk dihantam, dibungkam dan diremukkan untuk dihancurkan

Ini soal kecintaan, bagaimana semua digerakkan dalam satu ikatan kebersamaan, saling merangkul untuk memperkuat barisan, saling menjaga untuk mengungkap indahnya persaudaran

Ini soal kebahagiaan, bagaimana senyuman menghapuskan kecanggungan karena ketidak kenalan, bagaimana kekurangan dan kelemahan saling melengkapi dalam satu kekuatan kebersamaan

Reuni 212 adalah kisah tentang rindu, cinta dan persatuan, bukan seperti tuduhan para pemecah belah yang miskin nilai kebersamaan

Kapan mereka kaum pemecah belah bisa merasakan sebuah nilai kebersamaan?, sementara hati dan pikiran mereka tak jauh dari kebencian, rela terbakar demi menjadi kompor pemecah belah ikatan, hati mereka terbuat dari batu yang selalu keras tidak mau menerima nilai kebenaran, dan kecintaan mereka adalah kekacauan akibat sempitnya perasaan

029676200_1486782669-Pengantenkatedral

Lihatlah bagaimana nilai sebuah ikatan dibuat karena persamaan bukan perbedaan, dan 212 sudah berikan gambaran untuk jadi pelajaran, tengoklah bagaimana 212 berikan kesempatan yang sama untuk yang berbeda keyakinan, dijaga dalam satu ikatan keindonesiaan

24294272_10212514959521700_6591133785673893428_n

Dan tengoklah bagaimana penghargaan akan nilai-nilai kehidupan dengan tanpa melakukan kerusakan, pohon dan rumput dijaga dengan penuh kerahmatan, lantas pantaskah sebutan radikal itu tersematkan? sementara untuk melakukan kerusakan pun tak dilakukan

aa-gym-saat-beserta_20161202_150930

Jangan lupakan tentang kebersihan, karena 212 adalah tentang pikiran yang bersih dan hati penuh kecintaan, serta jauh dari nilai-nilai kekotoran, 212 adalah gerakan untuk menjadi contoh teladan dan bukan menjadi kosong akan pembelajaran, dimulai dari jiwa-jiwa yang bersih untuk peradaban

Disinilah semua cinta menjadi harapan

Disinilah semua mata berkaca-kaca karena indahnya persatuan

Disinilah semua hati bersatu dalam satu ikatan kebenaran

Karena… 212 adalah kisah tentang rindu yang tak akan pernah padam, yang akan selalu menyala dalam ingatan, menjadi penerang untuk kesadaran dalam satu gerakan, tentang cinta akan persaudaraan dalam satu kebangsaan

bang dw

212